Kamis, 04 Juli 2013

The Crooked Man

Diposting oleh Aliya W di 09.53 0 komentar
 David Hoover decides to move into a new apartment during a rough time in his life.
After some odd occurrences, he decides to ask about the room's former owner, but learns little.
So he sets off in search of him, strangely compelled to know more about this man...

Some part of this article may contains the spoilers. So, please read it at your own risk.

Okay, my opinion for this game is "COOL". I love the plot of this game, dimana the main character, "David Hoover" yang memiliki hidup yang.. oh, eum... "crooked". He did lost everything. His dream, love, even his family's life. Putus secara sepihak dengan Shirley (oh, damn, I hate her so much!), mimpinya buat jadi pilot sia-sia terbuang gitu aja, dan.... tentang ibunya yang mempunyai tumr di otaknya, sehingga kadang-kadang dia bingung bahkan tidak dapat mengingat David, anak nya sendiri. You will see the best part of this game when you get its good ending.

Mungkin, waktu pertama kali main, kamu ngerasa nothing special about this game, bahkan mungkin terkesan "boring". Tapi, ikuti alurnya saja, bro. You'd get impressed. Lebih-lebih.. ehm... kalau kalian punya hati. Honestly, I was crying when I watched the ending of this game..

Uh, and there's some battles in this game---saat dimana kamu harus ngelawan "The Crooked Man", yaitu si monster yang ngejar-ngejar si David Hoover. Dan, honestly, the battles are kinda annoying. That's pretty hard to beat the crooked man, guys! (especially in the end of this game --")

Selain David Hoover, kita bakal ketemu Shirley---she is a jerk who left David before, Paul---David's bes-buddy-ever, Marion---Paul's wife. Selain tokoh tersebut, kita akan ketemu dengan  Sissi, D dan Fluffy di tiap scene game.

Ah, anyway, ada 4 scenes dari game ini :



Julius Stones Law School



David's Room

Central Hospital


Hotel Ruhenheim


Kalau kamu dapat "good end", kamu berkesempatan buat mainin 2nd playthorugh dari game ini, yang dimana kamu bakal dapat some extra events in the end of this game (kalau dapat good end, tentunya). Tapi, kalau kalian terlalu malas buat mainkan game ini sekali lagi, cukup liat orang yang memainkan 2nd playthrough nya di Youtube.

I won't tell you the plot of this game, overall. Just play it, and enjoy its plot, guys! :D


NB: I love the soundtracks!!
General Rating : 3.5/5
 Level of creepiness : 7.5/10
Plot's rating : 8/10

Screen shots:








Source : And they all lived togather in the crooked house...

Sabtu, 29 Juni 2013

Separation

Diposting oleh Aliya W di 11.21 0 komentar
Six degrees of separation

Rabu, 19 Juni 2013

Kesalahan Lizzie

Diposting oleh Aliya W di 09.33 0 komentar
Di bawah teduhnya pohon di sebuah pinggir sungai, Lizzie duduk termangu sambil mencorat-coret sesuatu di buku sketsanya dan memikirkan tentang, siapa lagi kalau bukan Vano, orang yang selalu dia pikirkan selama bertahun-tahun ini.

Vano, orang yang tanpa secara langsung memberi kontribusi besar pada kehidupan sehari-hari Lizzie.Vano yang selalu membuatnya sedih tanpa alasan, Vano yang membuatnya selalu pulang lewat sore karena jadwal latihan futsalnya, Vano yang selalu membuatnya semangat hanya karena keberadaannya saja, Vano yang membuat Lizzie bingung sendiri tentang apakah dia gendut atau tidak, cantik atau tidak, Vano yang...

Masalahnya, Apakah Vano peduli akan semua hal itu?

Mungkin apa yang dikatan Fanya benar, "Untuk apa kamu peduli sama hal yang bahkan nggak peduli sedikit pun sama kamu? Untuk apa kamu bergantung pada hal yang sama sekali bahkan belum tentu baik sama kamu? Cinta? Ha! You must be kidding. Love never hurt us. Love is not complicated, but you make it complicated, Liz. Time to wake up and move on."

Apakah Vano peduli akan kesedihan Lizzie, saat Vano resmi bersama Ghina, seniornya?
Apakah Vano peduli akan lelahnya Lizzie menunggu Vano hingga lewat sore karena latihan fustsalnya?
Apakah Vano peduli akan semangat Lizzie karena adanya Vano?
Apakah Vano peduli akan penampilan Lizzie?
Apakah Vano peduli dengan Lizzie?

Mungkin ini kesalah terbesar bagi Lizzie yang selalau mengelak kenyataan bahwa Vano bukanlah orang yang terbaik bagi Lizzie, bahwa Vano selamanya bukan untuk Lizzie. Inilah kesalahan Lizzie yang selalu mengelak pada kenyataan, dan yang selalu memuntahkan pil kenyataan mentah-mentah. Padahal sudah sewajarnya kita sebagai manusia untuk menelan pil kenyataan meskipun rasanya sangat pahit, bukan?

Hati Lizzie menjerit, ia seakan marah. Kemudian Lizzie melempar buku sketsanya ke sungai, kemudian ia pergi dari tempat itu dengan mengayuh sepedanya. Ia marah akan kenyataan yang terus mengejeknya akan kebodohannya. Senyuman Vano terus terbayang di pikiriannya. Bukan senyum yang manis, akan tetapi senyum yang mengejek akan kebodohan dirinya.

Di sisi lain, buku sketsa Lizzie, yang dia lempar tidak benar-benar jatuh ke sungai. Buku sketsa itu malah jatuh dan terbuka. Dan di dalam buku itu terdapat puluhan sketsa... wajah Vano.

Inilah kesalah Lizzie.

Selasa, 26 Maret 2013

Hate and Being Hated.

Diposting oleh Aliya W di 05.41 0 komentar
Hate and Being Hated. It's life.

Dibenci dan membenci. Tapi kenapa harus itu?

Dibenci itu menyedihkan. Membenci itu melelahkan, right?
Dibenci oleh banyak orang itu menyakitkan. Terpojok, whatever you do, they'll always say : "Wrong. You're the problem."

Kita nggak harus membenci tanpa alasan kan? That's non-sense...membenci orang yang baru pertama kali kita temui tanpa mengetahui "seluk-beluk" orang tersebut.

Asap nggak akan muncul kalau nggak ada api. Rasa benci nggak akan muncul kalau nggak ada kebencian.

I wonder... why must we hating each other without a specific reason.... without a logical reason?

I ever felt it. That was hurt. Depressed.
Hal yang harusnya gak jadi besar, dibesar-besarkan dan jadi masalah buat kita. Dan kalau dipikir itu gak akan merugikan buat lingkungan hidup di sekitarnya.

Kenapa harus ada rasa "benci"? Darimana ada rasa benci?

Friend Used to Be

Diposting oleh Aliya W di 05.40 0 komentar
Friend. Friendship. What is Friendship?
How is Friends used to be?

Friend will never leaveus alone.
Friend will never insult us.
Friend will understand about us.
Friend will never talk badly about us, even behind us.
Friend always cheer us up.
Friend never blaming on us, even if we're wrong, they will tell us softly.

Itu yang kutahu tentang "Friends used to be", dan mencoba jadi "a good friend. Like a friend used to be."
And I never find my "real" friend. Nope, I don't search for a "perfect friend", karena itu mustahil. But I'd search for a friend, who never insult me, a friend who understand me. Just it. Ah, and... never talk badly about me.

Where is my "real" friend?

Senin, 25 Maret 2013

The Most Romantic Couple on RPG Horror Game

Diposting oleh Aliya W di 07.19 0 komentar
Ahhh... akhir-akhir ini ketagihan buat main RPG games. Pertama main Ib, dan sekarang Mad Father. Pernah dengar RPG game ini? kalau belum cobain deh. Those are really cool.

Oke, sejauh game yang sudah kumainkan, ternyata meskipun genre-nya horror, tapi tetep ada kinda couple-story in it. Yah sekarang aku bakal bahas mereka-mereka itu yang sudah bikin envy itu :).

1. Ib >< Garry
Awas Spoiler!!!
Oke,  is there anyone have play "Ib"? kalau udah, kalian pasti udah gak asing lagi sama nama tadi. Yap. Ib adalah tokoh utama yang kita mainkan, yaitu seorang anak berumur 9 tahun yang tersesat di galeri seni yang ternyata menyeramkan itu. Kemudian, ia bertemu dengan Garry, cowok (yang agak dewasa, I guess,) but probably he is not an adult at all.. Setelah Ib menolongnya dengan mengembalikan mawarnya yang berwarna biru itu, Garry memutuskan untuk menemani Ib selama perjalanan dan melindunginya. Tapi sepanjang permainan, Garry lebih cocok jadi "couple" buat Ib, daripada seorang guardian atau "kakak". Yah, di game juga terlihat kok, kalau Garry juga jauh lebih care sama Ib ketimbang Mary. Dan kalau kita dapat good ending, kita bakal bisa lihat bahwa Garry dan Ib sudah sangaaaat dekat, meskipun sempat lupa satu sama lain.
Adegan so sweet lainnya :
1. Waktu Ib pingsan,Garry menyelimuti Ib dengan coat nya.
2. Kalau kita kalah waktu mengambil kunci di perut boneka, Ib dan Mary bakal datengin Garry. Ib memukul   wajah Garry supaya Garry sadar, kemudian memeluknya.
3. Garry nyelamatin Ib dari serangan Mary.
4. Garry ngorbanin mawar birunya yang sangat berharga buat lindungin Ib dari Marry.
Aaah, love them! *fanmade

Garry does really care with Ib.

Promise of Reunion *from the game*

2. Aya >< Dio
Aya (11 th) yang mencoba untuk menyelamtkan ayahnya dari ancaman kutukan, yang buat semua test-subjcet yang ternyata selama ini ayahnya lakukan hidup seperti zombie. Ayahnya ternyata seorang scientist, yang hobi banget buat eksperimen dari jasad manusia atau pun manusia hidup... dan ada yang dibuat menjadi boneka.
Kemunculan Dio pertama kali malah bikin Aya takut karena penampilan Dio yang menyeramkan (dengan sebagian wajah yang tampak membusuk tanpa sebelah mata). Tapi, untuk kedua kalinya, Aya nggak takut lagi, karena ternyata Dio yang nyelamatin dia. Dan ternyata Dio berusaha buat ngelindungin Aya, atas perintah ibunya Aya yang sangat mencintai anaknya itu. Dio juga meminta pada Aya, agar tidak melupakan semua orang yang pernah ada dirumah itu (test-subject, red).
Unfortunately, Aya and Dio don't have a good ending. Dio yang akhirnya harus ikut terbakar bersama rumah Aya, menyuruh Aya untuk melarikan diri dari rumah tersebut. Semuanya atas perintah ibu Aya. Dan ternyata Dio sebenarnya adalah salah satu dari test-subject ayahnya aya, yang ikut hidup kembali bersamaan dengan munculnya curse di rumah itu.
Dan yang aku gak suka berbeda dengan Garry, Dio tidak selalu muncul setiap saat, but he always appear on a right time!
Dio nyelamatin Aya dari ayahnya yang berdiri dan siap-siap dengan chainsaw miliknya.
Tapi...di akhir permainan, sebelum rumah tersebut benar-benar terbakar, ada adegan yang ngalahin so sweertnya Ib dan Garry! Dio mendekat, dan mengecup dahi Aya, keudian berkata "Good bye, Aya. May you be smiled upon." Aaahhh... how cute....


Huft... what a bad ending :(

Charming Corpse, Dio

How cute... :))


So? Gimana? Which one is your favourite? But for me, both of them are romantic... Nah, it's all up to you to make a decide!


 

Vinthought Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos